Rabu, 07 Maret 2012

KISI-KISI UN 2

UAN 2007/2008
1.     Perhatikan beberapa gejala sosial berikut:
1.Pelakunya lebih dari satu orang
2.Tidak ada komunikasi diantara pelaku
3.Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas
4.Dimensi waktunya masa lalu
Dari daftar diatas yang termasuk ciri-ciri interaksi sosial adalah.......
A.    1 dan 2
B.    1 dan 3
C.    2 dan 3
D.    2 dan 4
E.    3 dan 4
2.     Dalam interaksi sosial harus ada kontak dan komunikasi sosial.
Dibawah ini yang termasuk komunikasi sekunder dalam interaksi sosial adalah
A.    Anita menerima kiriman surat dari seseorang di luar negeri
B.    Yudi berkata pada Yuni bahwa hari ini ada pentas seni
C.    Kepala sekolah menjelaskan tentang kedisiplinan kepada siswa
D.    Tawuran antara siswa STM dan SMA direkam oleh wartawan
E.    Seorang pedagang sedang menghitung jumlah keuntungannya
3.     Beberapa remaja berusaha untuk tampil sama persis dengan tokoh yang dikagumi. Dalam proses interaksi sosial tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor.....
A.    Identifikasi
B.    Simpati
C.    Motivasi
D.    Empati
E.    sugesti
UAN 2008/2009
4.     Setelah mendapat bimbigan dari Ustadz Mansyur, penampilan hana didepan umum lebih sopan dan pakaiannya menutup aurat secara lebih sempurna. Contoh tersebut menggambarkan adanya faktor yang mempengaruhi tindakan Hanna, yaitu.......
A.    Imitasi
B.    Identifikasi
C.    Sugesti
D.    Motivasi
E.    simpati
5.     Dalam upaya menyelesaikan konflik sosial di ambon beberapa waktu yang lalu, pemerintah mempertemukan keinginan pihak-pihak yang bertikai untuk berunding. Kedua belah pihak mengesampingkan perbedaan kepentingan sehingga tercapai kesepakatan bagi penyelesaian konflik tersebut. Kasus tersebut merupakan contoh interaksi sosial dalam bentuk..............
A.    Kompromi
B.    Stalemate
C.    Konsiliasi
D.    Persaingan Ajudikasi
E.    Koersif
6.     Perhatiakn bentuk interaksi sosial berikut ini!
(1)   di antara partai politik dalam kampaye
(2)   Kerjasama dua negara bersahabat dan bertetangga
(3)   Akomodasi berbagai kepentingan kelompok masyarakat majemuk
(4)   Pertandingan bola basket pelaja SMP di kabupaten kota
Proses interaksi sosial diatas yang bersifat asosiatif adalah..........
A.    ( 1)  dan (2)
B.    ( 1) dan (3)
C.    (2)  dan (3)
D.    (2) dan (4)
E.    (3) dan (4)


7.     Seorang siswa SMP di Cina menyumbangkan seluruh uang tabungan hasil jerih payahnya dari mengumpulkan botol bekas air mineral kepada anak-anak korban HiV/AIDS. Tindakan sosial dalam interaksi tersebut dipengaruhi oleh faktor........
A.    Identifikasi
B.    Imitasi
C.    Motivasi
D.    Empati
E.    Sugesti
8.     Pertandingan sepakbola terkadang diwarnai tindakan tidak sportif baik antar pemain maupun suporternya, sehingga tindakan anarkhis sering terjadi saat berlangsung maupun selesai pertandingan. Realitas sosial seperti contoh tersebut merupakan bentuk interaksi sosial yang bersifat........
A.    Kompetesi
B.    Disosiatif
C.    Kooperatif
D.    Asosiatif
E.    Persaingan
9.     Perhatikan contoh realita sosial berikut:
(1) Anggota DPR dan DPD berdebat tentang efektifitas pembangunan nasional.
(2) Siswa SMA /MA se-DKI bertanding olahraga untuk memperebutkan piala gubernur
(3) Para siswa berkumpul di halaman sekolah untuk menyaksikan pentas musik
(4) Siswa mengerjakan tugas secara sungguh-sungguh supaya mendapatkan nilai terbaik
Dari semua contoh diatas yang merupakan interaksi sosial dalam bentuk kompetisi adalah.......
A.    (1) dan (2)
B.    (1) dan (3)
C.    (2) dan (3)
D.    (2) dan (4)
E.    (3) dan (4
































Materi Utama
A. Tindakan Sosial
Tindakan sosial adalah perbuatan atau perilaku manusia untuk mencapai tujuan subjekif dirinya. Misalnya: sejak kecil manusia sudah melakukan tindakan sosial, antara lain membagi makanan dengan temannya, dan memberi sesuatu kepada pengemis. Tindakan sosial manusia diperoleh melalui proses belajar dan proses pengalaman dari orang lain. Jika tindakan sosial itu dianggap baik, maka manusia akan melakukan tindakan yang sama. Jika tindakan sosial itu baik dan bermanfaat bagi orang lain, makin lama tindakan sosial tersebut dapat dianggap sebagai suatu kebisaaan yang harus dilakukan oleh seluruh anggota kelompok sosial.
Pada dasarnya tindakan sosial dapat dibedakan menjadi empat tipe. Sebagai berikut:
1. Bersifat Rasional (Instrumental)
Tindakan sosial yang bersifat rasional adalah tindakan sosial yang dilakukan dengan pertimbangan dan pilihan secara sadar (masuk akal). Artinya tindakan sosial itu sudah dipertimbangkan masak-masak tujuan dan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Contohnya: Ari memutuskan bekerja daripada memilih melanjutkan kuliah setelah lulus SMA. Alasannya karena Ari ingin segera dapat membantu orang tua dan membiayai sekolah adik-adiknya. Setelah mengambil keputusan bekerja, maka Ari membuat lamaran kerja ke semua perusahaan yang membuka lowongan kerja sesuai kualifikasi pendidikan yang dimilikinya.
2. Berorientasi Nilai
Tindakan sosial yang berorientasi nilai dilakukan dengan memperhitungkan manfaat, sedangkan tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan.Tindakan ini menyangkut kriteria baik dan benar menurut penilaian masyarakat. Bagi tindakan sosial ini yang penting adalah kesesuaian tindakan dengan nilai-nilai dasar yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Contohnya: tidak pernah mempersoalkan mengapa kita harus makan dan minum dengan tangan kanan. Tindakan tersebut kita lakukan karena pandangan masyarakat yang menekankan kalau makan dan minum dengan tangan kanan lebih sopan daripada dengan tangan kiri.
3. Tradisional
Tindakan sosial tradisional adalah tindakan sosial yang menggunakan pertimbangan kondisi kebisaaan yang telah baku dan ada di masyarakat. Oleh karena itu, tindakan ini cenderung dilakukan tanpa suatu rencana terlebih dahulu, baik tujuan maupun caranya, karena pada dasarnya mengulang dari yang sudah dilakukan.
Contohnya: upacara-upacara adat yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Kegiatan tersebut dilakukan mengikuti kebiasaan yang telah turun-temurun.
4. Afektif
Tindakan sosial afektif adalah tindakan sosial yang sebagian besar tindakannya dikuasai oleh perasaan (afektif) ataupun emosi, tanpa melakukan pertimbangan yang matang. Perasaan marah, cinta, sedih, gembira muncul begitu saja sebagai reaksi spontan terhadap situasi tertentu. Oleh sebab itu tindakan sosial itu bisa digolongkan menjadi tindakan yang irasional.
Contohnya: seorang wanita menangis begitu mendengar cerita sedih. Tindakan tersebut merupakan ungkapan-ungkapan langsung tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu alasan tujuannya.
1. Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat terjadi apabila memenuhi syaratsyarat sebagai berikut.
a. Adanya kontak sosial (sosial contact)
Kontak berasal dari kata Con atau Cun yang berarti bersama-sama, dan Tango yang artinya menyentuh. Jadi, secara harfiah kontak berarti saling menyentuh. Dalam sosiologi kontak tidak hanya bersentuhan fisik saja, kadang-kadang bias terjadi tanpa fisik, misalnya berbicara melalui telepon, menulis surat, dan internet. Kontak hanya dapat berlangsung apabila kedua belah pihak sadar akan kedudukan atau kondisi masing-masing. Untuk itu kontak memerlukan kerja sama dengan orang lain.




Kontak sosial dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Berdasarkan bentuk (wujud)
Berdasarkan bentuknya kontak dapat dibedakan menjadi berikut ini.
a) Kontak antara individu dengan individu
Contoh: Kontak antara guru dengan guru, orangtua dengan anaknya, siswa dengan siswa lain, penjual dengan pembeli.
b) Kontak antara individu dengan kelompok
Contoh: Guru dengan murid-muridnya di kelas, penceramah dengan peserta seminar.
c) Kontak antara kelompok dengan kelompok
Contoh: Pertandingan sepak bola antara dua tim kesebelasan, pertandingan bola voli antara dua tim bola voli.
2) Berdasarkan cara
Berdasarkan caranya kontak dibedakan menjadi dua, yaitu berikut ini.
a) Kontak langsung (primer)
Kontak langsung yaitu hubungan timbal balik yang terjadi secara langsung, contoh: berbicara, berjabat tangan, tersenyum, dan bahasa isyarat.
b) Kontak tidak langsung (sekunder)
Kontak tidak langsung (sekunder) yaitu hubungan timbal balik yang yang memerlukan perantara (media). Perantara/media yang digunakan dalam kontak sekunder bisa berupa benda misalnya, telepon, TV,  radio, HP, surat, dan telegram atau bisa juga menggunakan manusia, misalnya seorang pemuda meminang seorang gadis melalui orang lain.
3) Berdasarkan sifatnya
Berdasarkan sifatnya kontak sosial ada dua macam, yaitu berikut ini.
a) Kontak positif yaitu kontak sosial yang mengarah kepada suatu kerja sama, misalnya kontak antara pedagang dengan pembeli.
b) Kontak negatif yaitu kontak sosial yang mengarah kepada suatu pertentangan, misalnya kontak senjata antara dua negara yang sedang berperang.
b. Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide atau gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling memengaruhi di antara keduanya.
1) Komunikasi dibedakan menjadi dua, yaitu berikut ini.
a) Komunikasi lisan (verbal), yaitu komunikasi dengan menggunakan kata-kata (verbal) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Contoh: berbicara langsung dan melalui telepon.
b) Komunikasi nonverbal (isyarat), yaitu komunikasi dengan menggunakan gerak-gerik badan, bahasa isyarat, atau menunjukkan sikap tertentu. Contoh: menggelengkan kepala, mengangkat bahu, dan melambaikan tangan.
2) Syarat-syarat komunikasi
Komunikasi dapat berlangsung apabila memenuhi syarat sebagai berikut.
a) Ada pengirim (sender) yaitu pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
b) Penerima atau komunikasi (receiver) yaitu pihak yang menerima pesan dari pihak lain.
c) Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh setiap pihak kepada pihak lain.
d) Umpan balik (feed back) adalah tanggapan dari penerima pesan atau isi pesan yang disampaikannya.
 Suatu kontak bisa terjadi tanpa komunikasi, jika terjadi kontak tanpa komunikasi maka tidak akan terjadi interaksi sosial. Misalnya, orang Jawa bertemu dengan orang Batak, orang Jawa menyapa dengan bahasa Jawa, padahal orang Batak tidak mengerti bahasa Jawa, maka komunikasi tidak akan terjadi. Komunikasi dapat berdampak positif jika masing-masing dapat menafsirkan apa yang dimaksud. Komunikasi juga bisa berdampak tidak baik apabila salah satu pihak tidak dapat menafsirkan maksud pihak lain.



2. Ciri-Ciri Interaksi Sosial
Dari uraian tersebut di atas, dapat disampaikan bahwa interaksi sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Pelakunya lebih dari satu orang.
b. Ada komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial.
c. Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pelaku.
d. Ada dimensi waktu (masa lampau, maka kini, dan masadatang) yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.
3. Faktor-Faktor yang Mepengaruhi Interaksi Sosial
Interaksi sosial sebagai bentuk hubungan manusia yang menimbulkan aksi dan reaksi dapat dipengaruhi oleh factor-faktor dari luar individu. Factor yang memengaruhi interaksi sosial ada enam macam, sebagai berikut.:
a. Imitasi
Imitasi adalah proses belajar dengan cara meniru atau mengikuti perilaku orang lain. Imitasi dapat berakibat positif bila yang ditiru merupakan individu-individu baik menurut pandangan umum. Tetapi imitasi juga bisa bersifat negatif jika individu yang ditiru berlawanan dengan pandangan umum. Contoh: banyak anak SMA mengikuti mode rambut artis dicat dan panjang bagi laki-laki.
b. Sugesti
Sugesti adalah pemberian pengaruh pandangan seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu, sehingga orang tersebut mengikuti pandangan/ pengaruh tersebut tanpa berpikir panjang. Sugesti biasanya dilakukan dari orang-orang yang berwibawa dan mempunyai pengaruh besar di lingkungan sosialnya. Sugesti dapat berupa berbagai bentuk sikap atau tindakan seperti perilaku, pendapat, saran, dan pertanyaan. Reklame dan iklan yang dimuat di media cetak, atau media elektronik juga merupakan salah satu bentuk sugesti yang bersifat massal.
Contoh: iklan sampo yang diperagakan oleh seorang yang seolah-olah rambutnya rontok, setelah memakai sampo tersebut rambutnya menjadi kuat/tidak rontok dan tebal.
c. Identifikasi
Identifikasi adalah kencenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan individu lain yang ditiru. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi disebut idola (dari kata idol yang berarti sosok yang dipuja). Identifikasi merupakan bentuk lanjut dari proses sugesti dan proses imitasi yang telah kuat. Contoh: seorang siswa yang mengagumi gurunya, sering mengidentifikasi dirinya seperti guru yang dikaguminya.
d. Simpati
Simpati adalah perasaan tertarik yang timbul dalam diri seseorang dan membuatnya merasa seolah-olah berada dalam keadaan orang lain. Perasaan simpati dapat disampaikan kepada seseorang, sekelompok orang, atau lembaga formal pada waktu khusus misalnya peringatan ulang tahun kemerdekaan RI , kenaikan kelas, atau kenaikan jabatan. Agar simpati dapat berlangsung, diperlukan adanya saling pengertian antara kedua belah pihak. Pihak yang satu terbuka mengungkapkan pemikiran atau isi hatinya, sedangkan pihak yang lain mau menerimanya. Itulah sebabnya simpati merupakan dasardasar persahabatan.
Contoh: perasaan simpati seorang perjaka terhadap gadis yang akhirnya menimbulkan perasaan cinta kasih di antara keduanya.
e. Motivasi
Motivasi adalah dorongan, rangsangan, atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional, dan penuh rasa tanggung jawab. Motivasi dapat diberikan dari seorang individu kepada kelompok, kelompok kepada kelompok, individu kepada individu. Motivasi dapat berupa sikap, perilaku, pendapat, saran, dan pertanyaan.
Contoh: penghargaan kepada siswa yang berprestasi merupakan motivasi bagi siswa untuk belajar lebih giat.
f. Empati
Empati adalah proses kejiwaan seorang individu untuk larut dalam perasaan orang lain baik suka maupun duka.
Contoh: kalau kita melihat orang lain mendapat musibah, kita seolah-olah ikut menderita.

4. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial secara garis besar dapat kita bedakan menjadi dua yaitu interaksi sosial yang bersifat assosiatif dan interaksi sosial yang bersifat dissosiatif. Untuk lebih jelasnya akan kita uraikan satu persatu.
a. Interaksi sosial yang bersifat assosiatif
Interaksi sosial yang bersifat assosiatif dapat berbentuk kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.
1) Kerja sama (cooperation) Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama dilakukan sejak manusia mulai berinteraksi dengan sesamanya. Kebiasaan kerja sama dimulai sejak kanak-kanak, mulai dari dalam kehidupan keluarga lalu meningkat kelompok sosial yang lebih luas.
Kerja sama bisa bersifat konstruktif (membangun), bias juga destruktif (merusak). Contoh kerja sama konstruktif yaitu guru dan siswa memulihkan nama baik sekolah akibat dinodai sejumlah siswa yang melakukan tindakan kriminalitas. Adapun contoh kerja sama yang bersifat destruktif adalah tawuran antarpelajar. Selain itu kerja sama juga bisa bersifat agresif apabila suatu kelompok mengalami kekecewaan yang berkepanjangan akibat rintangan-rintangan dari luar kelompok. Bentuk-bentuk kerja sama meliputi antara lain:
a) bargaining yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih;
b) cooperation yaitu penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan dari suatu organisasi untuk menghindari terjadinya kecurangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan;
c) coalition yaitu gabungan antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama;
d) joint venture yaitu kerja sama dalam usaha proyek-proyek tertentu.
Di pedesaan kerja sama merupakan tradisi turun-temurun, yang disebut dengan istilah gotong royong.Misalnya untuk masyarakat Jawa gotong royong disebut gugur gunung, di Sunda disebut sambat sinambat, di Batak disebut raron, di Manado disebut mapulus, dan di Bali disebut arud kelod ketog semprong.
2) Akomodasi
Akomodasi adalah keseimbangan interaksi sosial dalam kaitannya dengan norma dan nilai yang ada di masyarakat. Akomodasi sering terjadi dalam situasi konflik sosial (pertentangan). Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga pihak lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
•) Akomodasi dilakukan bertujuan untuk:
a) mengurangi pertentangan akibat perbedaan paham,
b) mencegah meledaknya pertentangan untuk sementara waktu,
c) mewujudkan kerja sama antara kelompok-kelompok yang hidup terpisah akibat psikologis serta cultural dan mengusahakan peleburan kelompokkelompok sosial yang terpisah.
•) Bentuk-bentuk akomodasi antara lain berikut ini.
a) Koersi (coercion), yaitu bentuk akomodasi yang terjadi karena adanya pelaksanaan dari pihak lain yang lebih kuat. Contoh: sistem pemerintahan komunis.
b) Kompromi (compromise), yaitu bentuk akomodasi di mana pihak yang mengalami perselisihan mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian. Contoh: gencatan senjata dua pihak yang berperang.
c) Arbitrasi (arbitration), yaitu bentuk akomodasi yang melibatkan pihak ketiga dalam menyelesaikan suatu konflik. Dalam hal itu pihak ketiga bersifat netral. Contoh: penyelesaian antara dua negara yang sedang perang oleh PBB sebagai pihak ketiga.
d) Toleransi yaitu sikap saling menghargai dan menghormati pendirian masing-masing.
e) Mediasi yaitu bentuk akomodasi yang hampir sama dengan arbitrasi, namun pihak ketiga tidak mempunyai wewenang memutuskan masalah, hanya sebatas sebagai penasihat.
f) Konversi (conversion) yaitu konflik apabila salah satu pihak bersedia mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain.
g) Konsiliasi yaitu penyelesaian konflik dengan jalan mempertemukan pihak-pihak yang bertikai di meja perundingan.
h) Ajudikasi yaitu penyelesaian konflik di meja pengadilan.
i) Stalemate yaitu bentuk akomodasi di mana pihak yang berselisih mempunyai kekuatan seimbang. Keduanya sadar bahwa tidak mungkin maju atau mundur, sehingga pertentangan antara keduanya akan berhenti pada suatu titik.
j) Segregasi yaitu upaya untuk saling menghindar di antara pihak-pihak yang bertikai untuk mengurangi ketegangan.
k) Ceasefire yaitu menunda perselisihan dalam jangka waktu tertentu sambil mengupayakan terselenggaranya penyelesaian konflik.
l) Dispasement yaitu mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada objek masing-masing.
3) Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara interaktif dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian, lambat laun tidak ada perbedaan antara individu dengan kelompok untuk mengurangi perbedaan tersebut. Usaha-usaha asimilasi meliputi mempererat kesatuan tindakan, sikap, perasaan dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama.
Hasil dari proses asimilasi antara lain lahir:
a) kelompok-kelompok manusia dengan berbeda kebudayaan;
b) individu-individu sebagai warga kelompok yang saling mengenal;
c) kebudayaan baru dari kelompok yang saling menyesuaikan diri.
4) Akulturasi
Akulturasi adalah proses sosial yang timbul karena penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing tanpa menghilangkan unsur-unsur kebudayaan asli. Akulturasi merupakan perpaduan dua unsur kebudayaan dalam kurun waktu yang lama. Dalam akulturasi unsur-unsur kebudayaan asing tersebut melebur ke dalamkebudayaan asli, dengan tidak menghilangkan kepribadian kedua unsur kebudayaan tersebut. Contohnya perpaduan musik Melayu dengan musik Spanyol menjadi/lahir musik keroncong.
Unsur-unsur yang mudah diterima dalam alkulturasi, antara lain:
a) kebudayaan material;
b) teknologi baru yang manfaatnya cepat dirasakan dan mudah dioperasikan, misalnya kebudayaan pertanian (alat-alat, pupuk, dan benih);
c) kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat (kesenian, olahraga);
d) kebudayaan yang pengaruhnya kecil, misalnya model pakaian.
Unsur-unsur kebudayaan yang sukar di terima antara lain:
a) kebudayaan yang mendasari pola pikir masyarakat, misalnya unsur keagamaan;
b) kebudayaan yang mendasari proses sosialisasi yang sangat meluas dalam kehidupan masyarakat, misalnya makanan pokok, sopan-santun, dan mata pencaharian.
Individu/orang yang mudah menerima budaya asing, yaitu:
a) golongan muda yang belum memiliki identitas dan kepribadian yang mantap;
b) golongan masyarakat yang hidupnya belum memiliki status yang penting;
c) kelompok masyarakat yang hidupnya tertekan, misalnya pengangguran dan penduduk terpencil.





b. Interaksi sosial yang bersifat dissosiatif
Berikut ini akan kita bahas bentuk-bentuk interaksi sosial yang bersifat dissosiatif, sebagai berikut.
1) Persaingan (competition)
Persaingan adalah proses sosial yang melibatkan individu atau kelompok yang saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Persaingan dapat terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang terbatas atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian umum. Misalnya, beberapa orang memperebutkan kedudukan/ jabatan gubernur kepala daerah. Adapun nantinya yang menduduki jabatan gubernur hanya satu orang. Persaingan yang dilakukan sesuai dengan norma dan tingkah laku sosial yang berlaku di masyarakat, kecil kemungkinan menggunakan kekerasan atau ancaman. Persaingan seperti ini disebut persaingan secara sehat atau sportif.
a) Hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya persaingan, antara lain:
– perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang paling prinsip;
– perselisihan paham yang mengusik harga diri seseorang;
– persamaan kepentingan dalam hal yang sama;
– perbedaan sistem nilai dan norma dari kelompok masyarakat;
– perbedaan kepentingan politik.
b) Persaingan dapat berakibat, sebagai berikut:
– tumbuhnya solidaritas antaranggota kelompok atau kelompok;
– timbulnya perubahan sikap baik positif maupun negatif;
– kehilangan harta benda atau jiwa manusia jika terjadi benturan fisik;
– terjadi negosiasi di antara pihak-pihak yang bertikai di dalam keadaan status quo.
c) Fungsi persaingan
Persaingan memiliki beberapa fungi antara lain:
– dapat menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang sama-sama menuntut untuk
dapat dipenuhi tuntutannya, padahal tidak semua keinginan dapat  yang dapat menimbulkan persaingan;
– dapat menyeleksi individu yang pantas memperoleh kedudukan serta peranan sesuai dengan kemampuannya.
2) Kontravensi
Kontravensi adalah proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai dengan sikap ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka. Penyebab kontravensi antara lain perbedaan pendirian kalangan tertentu dengan kalangan lain di masyarakat.
3) Pertikaian
Pertikaian adalah proses sosial yang terjadi apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain dengan cara ancaman atau kekerasan. Pertikaian merupakan proses sosial sebagai kelanjutan dari kontravensi. Dalam pertikaian, perselisihan bersifat terbuka. Pertikaian terjadi karena makin tajamnya perbedaan antara kalangan yang berselisih paham. Kondisi tersebut mengakibatkan ancaman, rasa benci yang mendorong tindakan untuk melukai, menghancurkan atau menyerang pihak lain.
4) Permusuhan (konflik)
Permusuhan (konflik) adalah keadaan yang membuat salah satu pihak merintangi atau menjadi penghalang bagi individu atau kelompok dalam melakukan kegiatankegiatan tertentu. Permusuhan atau konflik diawali dengan adanya perbedaan atau persaingan yang serius sehingga sulit didamaikan atau ditemukan kesamaannya. Permusuhan atau konflik merupakan situasi yang wajar dapat terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan tetangga, bahkan antarnegara. Permusuhan atau konflik merupakan sikap yang tidak terpuji, karena bertentangan dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar